12 April, 2009

Sebuah Percikan Makna Di Balik Fenomena Kesenangan, Kemudahan, Keindahan, Kenikmatan, Kecantikan …..

Oleh: La Ode Ahmad

Saudaraku, Anda pernah merasakan rasa senang, bukan? Anda pernah merasakan suasana penuh kemudahan? Anda pernah menyaksikan sekaligus menikmati suatu keindahan? Anda pernah menyantap hidangan favorit Anda dengan penuh kenikmatan? Anda pernah menyaksikan penampilan seorang perempuan yang penuh aura kecantikan?

Saudaraku, saya percaya dan yakin Anda pernah merasakan atau mengalami semua itu. Dan tentu saja masih banyak pengalaman-pengalaman positif, menyenangkan, membahagiakan dll yang Ada rasakan yang dalam tulisan ini tidak seluruhnya bisa dicantumkan.

Dalam keadaan normal, semua orang suka akan segala sesuatu yang baik, yang indah, yang nikmat, yang cantik, yang gagah dan lain sebagainya. Tetapi, apa sesungguhnya makna dari semua ini atau semua itu?

Saudaraku, saya meyakini bahwa semua keindahan, kenikmatan, kebahagiaan, kemudahan, kesuksesan, kecantikan dan lain sebagainya adalah simbol-simbol kebenaran eksistensi Surga. Simbol-simbol itu ditampilkan oleh Zat yang menciptakan alam semesta ini sebagai ayat kauniah yang sekaligus menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang yakin.

Ketika kita sedang menyaksikan sebuah keindahan, katakanlah keindahan salah satu panorama alam misalnya, maka sesungguhnya pada saat yang sama kita sedang menikmati keindahan organ penglihatan kita yang saat itu kita pakai sebagai sarana untuk menyaksikan keindahan panorama tersebut. Di dalam konteks makna-makna seperti ini dengan mudah kita menyadari keberadaan Zat Maha Indah yang kuasa menghadirkan keindahan sekaligus kuasa menciptakan sarana-sarana tubuh kita untuk bisa menyaksikan keindahan itu.

Ketika orang-orang normal di dunia ini menyukai keindahan, maka sejatinya inilah fakta bahwa kita menyukai Surga sekaligus kita ingin menjadi bagian tak terpisahkan darinya. Bahwa keindahan, kenikmatan, kemudahan, dan lain sebagainya yang kita saksikan di dunia ini bersifat fluktuatif, relatif dan sementara, itu karena mengikuti kodrat alamiah dunia yang memang seperti itu. Dengan kata lain, Surga yang kita saksikan atau bahkan mungkin kita nikmati di dunia ini adalah benar-benar Surga Simbolik. Surga seutuhnya, sebenarnya dan selamanya ada di alam pasca dunia.

Saudaraku, tidak ada ruginya kita menginginkan dan atau memiliki surga simbolik di dunia ini, asalkan keinginan terhadap obyek simbolik ini tidak mengalahkan (atau tidak mengorbankan) keinginan kita terhadap obyek substansialnya yang hakiki. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk membuktikan salah satu keinginan hidup yang sangat luhur ini? Wallahua’lam

11 February, 2009

Menyikapi Fatwa MUI Tentang Rokok

(Sebuah Perspektif Filosofis Sederhana)
Oleh La Ode Ahmad

Seperti diberitakan berbagai media massa belum lama ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengeluarkan sebuah fatwa yang mengharamkan rokok, khususnya penggunaan barang berasap itu pada (atau oleh) ibu hamil dan anak-anak. Banyak prokontra yang berkembang berkaitan dengan fatwa tersebut. Pihak yang paling sering ditanya, atau dimintai tanggapan soal fatwa ini adalah para ustadz dan juga para dokter.

Kontroversi terhadap fatwa tersebut tampaknya akan tetap berlangsung, apalagi fakta-fakta menunjukkan bahwa tidak semua dokter, juga tidak semua ustadz atau ulama misalnya, bahkan tidak seluruh pengurus MUI umpamanya, memperlihatkan sikap tidak merokok. Bagaimana menyikapi keadaan semacam ini?

Pertama, ada baiknya kita selalu kembali kepada keyakinan awal bahwa fenomena prokontra terhadap sesuatu, tak terkecuali terhadap rokok dan hal-hal yang berkaitan dengannya, sudah menjadi (dan akan selalu menjadi) salah satu ciri khas dunia, karena memang dunia adalah tempat berkumpulnya hal-hal positif dan negatif sekaligus. Tempat yang murni positif saja hanya ada di surga, dan sebaliknya tempat yang murni negatif saja hanya ada di neraka.
Baik nilai positif maupun nilai negatif keduanya dapat tumbuh dan bahkan berkembang di dunia ini, sebab penghuni dunia yang bernama manusia diutus ke alam ini dengan membawa dua potensi dalam dirinya. Fa-alhamaha fujuuraha wa taqwaaha (Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaanya) [QS. 91:8].

Tak perlu dipersoalkan lebih jauh mengapa pada diri manusia oleh Tuhan diberi dua potensi yang berbeda secara diametral itu, karena memang segalanya sudah jelas. Makhluk yang diberi potensi positif saja namanya bukan manusia tetapi malaikat. Dan yang diberi potensi negatif saja namanya juga bukan manusia melainkan setan.

Nah, kita adalah manusia, bukan malaikat tapi bukan juga setan. Ciri-ciri dasar dari masing-masing makhluk ini sudah jelas. Yang menggembirakan bagi kita manusia adalah kelanjutan ayat di atas tadi. Qod-aflaha manzakkaaha, faqod-haaba mandassaaha (beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang mengotorinya) [QS. 91: 9-10].

Maka semakin jelas, kita ditempatkan di dunia ini sebagai makhluk berakal untuk menentukan pilihan dan sekaligus bekerja (atau beramal) berdasarkan pilihan tersebut. Independensi kita sebagai manusia terletak pada fakta tersebut. Hanya saja, orang-orang berakal sehat akan selalu yakin bahwa kebebasan tersebut adalah kebebasan untuk melakukan kebaikan, dan bukan kebebasan untuk melakukan hal sebaliknya, karena kebebasan yang terakhir justru akan menghilangkan substansi makna kebebasan yang sesungguhnya. Bukankah kebebasan untuk melakukan kejahatan akan melenyapkan kehidupan, termasuk melenyapkan kebebasan itu sendiri?

Setelah kita memahami hakekat prokontra sebagai sebuah keniscayaan duniawi, maka hal kedua yang perlu menjadi pegangan kita dalam menyikapi fatwa haram tentang rokok ini adalah mencoba mengambil sikap yang paling aman secara syar’i, yakni ”ambil yang meyakinkan, tinggalkan yang meragukan”. Andai saja tingkat keyakinan seseorang terhadap fatwa haram rokok ini masih berada pada level meragukan misalnya, yang berarti status keharaman/kehalalannya masih diragukan umpamanya, maka merujuk pada kaidah prinsip tadi sejatinya sikap yang perlu diambil dalam situasi tersebut tidak lain adalah ”meninggalkan rokok”, dan (maaf) bukan meninggalkan fatwanya.

Indah sekali salah satu pemandangan yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri di haromain (dua tanah suci) baru-baru ini. Di Mekah misalnya, banyak billboard terpampang di sudut-sudut jalan protokol berisi simbol larangan merokok lengkap dengan tulisan ”walaatulquu biaidiikum ilattahluka” (dan janganlah engkau menjerumuskan dirimu kedalam kebinasaan). [QS. 2:195].

Apabila sikap-sikap resistensi terhadap rokok masih belum bisa diwujudkan maka sikap yang perlu terus dipertahankan adalah sikap saling menghormati satu sama lain. Silahkan para perokok meneruskan aktivitasnya, dengan syarat selalu memastikan tidak ada paparan asap rokok terhadap orang/kelompok bukan perokok, agar minimal rasa nyaman masing-masing pihak tidak terusik.

Andaikan rasa nyaman itu selalu berarti aman pula, maka siapapun akan rela para perokok tetap mempertahankan kebiasannnya. Akan tetapi, kita tak rela sedikitpun apabila keyamanan itu ternyata mengundang kebinasaan. Riset-riset mutakhir tentang rokok semakin menunjukkan kebenaran ini. Wa-asaa antuhibbu syai-a wahuwa syarrullakum (boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu). [QS. 2: 216].

Studi epidemiologi pertama yang menghubungkan aktifitas merokok dengan kejadian kanker paru-paru misalnya, diterbitkan tahun 1955 (Beaglehole, 1993). Dekade-dekade selanjutnya, fakta-fakta seputar kemudharatan rokok semakin banyak tersingkap oleh penelitian. Peningkatan yang signifikan kejadian kanker nasopharing juga terlihat sangat jelas pada kelompok perokok. Kasus-kasus serangan jantung, yang mendahului kematian mendadak seseorang, juga semakin hari semakin jelas kaitannya dengan aktifitas menghisap benda bernikotin itu.

Di halaman yang terbatas ini bolehjadi tidak akan bisa menampung seluruh informasi mengenai dampak negatif dari barang yang mengandung tidak kurang dari 2000 (dua ribu) jenis racun kimiawi itu.

Maka, pertanyaannya adalah, seberapa logis argumen-argumen mempertahankan rokok atas dasar potensi devisa yang bisa masuk ke kas negara melalui cukai rokok misalnya, sementara pada saat yang sama penanggulangan berbagai penyakit akibat rokok ternyata menyedot keuangan negara melampaui jumlah yang masuk?

Last but no least, memang kita akui manfaat-manfaat di balik rokok, tetapi kita akui juga rentetan kemudharatan yang ditimbulkannya. Karena itu, ada relevansi makna yang saya kira perlu kita garis bawahi dari sebuah kaidah fiqih bahwa dar-ul mafaasid muqoddamun ’alaa jalbil mashoolih (menolak kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat). Dengan demikian, hemat saya, sikap bijak yang paling relevan diambil di sini hanya ada satu: berhenti merokok dan/atau tidak pernah memulainya. Wallahua’lam.

28 April, 2008

Benarkah Ini Cinta...


Oleh: Hidayatul Karomah

“Cinta itu anugerah maka berbahagialah, sebab kita sengsara bila tak punya cinta”, demikian nukilan syair sebuah lagu.Benar! Cinta itu adalah anugerah, dan benar pula kita akan sengsara bila tak punya cinta.Namun bisa semudah itukah kita menilai, benarkah ini cinta yang dimaksud?

Makna Cinta
Cinta. Berbicara cinta takkan ada habisnya. Memaknai cinta itu sendiri jelas tergantung pada isi kepala masing-masing. Perasaan yang mampu memberikan energi luar biasa, mampu memberikan kebahagiaan dan membuat seseorang rela berkorban tanpa mengharap sebuah balasan. Inikah makna cinta? Dan timbul kembali pertanyaan benarkah ini cinta yang sesungguhnya ketika seseorang merasa telah jatuh cinta dan kemudian melakukan apa saja demi mendapatkan cinta, benarkah ini anugerah ketika seorang merasa jatuh cinta lagi pada seseorang ketika biduk rumah tangga telah berjalan?

Cinta atau NAFSU
Sesungguhnya itulah yang harus ditelaah dengan sebening- beningnya hati. Hanya dengan kejernihan pikiran dan hati nuranilah yang mampu memberikan jawaban. Itulah kunci jawabannya. Namun seberapa mampu kita mengedepankan hati nurani, ketika hati sudah penuh sesak dengan dorongan-dorongan syetan yang sungguh lihai mengatasnamakan cinta sebagai pembenaran.Melalui celah nafsu, syetan mampu membungkus sesuatu yang salah seakan-akan benar adanya. Syetan mampu membakar nafsu dengan iming-iming kenikmatan tiada tara.Syetan tak pernah surut menghembuskan godaan-godaan ditengah kadar keimanan yang sangat rentan pasang surutnya.Semoga iman bisa menjadi pagar, sehingga bisa merasakan kenikmatan cinta yang hakiki.

24 April, 2008

Fenomena Rasa

Oleh: Hidayatul Karomah

Artikel ini adalah murni kontribusi dari istri saya yang juga ingin berbagi cara pandang dengan para pengunjung. (La Ode Ahmad)

Ada empat huruf luar biasa yaitu R,A,S,A. Rasa adalah sebuah keajaiban yang Allah ciptakan sebagai salah bukti kekuasaan dan keagungan-Nya. Betapa tidak? Adakalanya manusia merasakan binar-binar kebahagiaan, duniapun terasa sangat lapang dan terang benderang.

Namun suatu ketika hati merasa sedih, maka duniapun terasa sempit, gelap dan bahkan tidak jarang yang ada hanya air mata, menangis dan menangis.
Adakala pula seseorang merasakan kecemasan. Gelisah dan gelisah. Duduk tidak tenang, berdiripun tak bisa diam, tidur tak nyenyak makanpun tidak enak.

Mungkin rasa bahagia, sedih dan cemas semua orang pernah mengalaminya, tak mengenal usia, jenis kelamin, maupun status sosial. Namun ada satu rasa yang belum tentu bisa didapatkan oleh setiap orang yaitu rasa damai. Ketika seseorang memperoleh perasaan damai ibarat air laut dimusim teduh, atau senyaman sentuhan angin di pagi hari yang berhembus dari sela-sela daun padi yang mulai menguning bak menyampaikan kabar baik bahwa padi siap dipanen. Atau juga kedamaian seorang bayi yang terlelap tenang dalam dekapan hangat Sang Bunda.

Itulah kehidupan. Allah menciptakan manusia dengan kesempurnaan akal dan hati yang mampu melahirkan rasa.Dengan berbekal kesempurnaan akal pikiran serta perasaan dalam hati sudah seharusnya manusia berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Semoga dapat menjadikan renungan, karena hidup adalah sebuah pilihan. Jalan terbentang di depan, roda kehidupan akan terus berputar menurut titah Sang Pemilik Kehidupan. Jalan yang kita pilih semua ada konsekuensinya. Semoga iman mampu senantiasa menuntun akal dan rasa kepada pilihan yang terbaik meraih kedamaian abadi ditengah guncangan kefanaan yang tak pernah mau berhenti. Amien.

21 April, 2008

Tragedi Integritas Nilai Kesehatan

Dalam salah satu hadits yang berkaitan dengan kesehatan, Rasululullah Saw bersabda: was-alu Allah al-yaqiina wa al-mu’aafah, fa-innahu lamyu’ta ahadun ba’da al-yaqiina khairan min al-mu’aafah (mintalah kepada Allah keyakinan yang benar dan kesehatan, karena sesungguhnya tidak ada pemberian setelah keyakinan yang benar yang lebih berharga daripada kesehatan.

Dalam hadits tersebut, posisi kesehatan hampir-hampir disejajarkan dengan kedudukan keyakinan yang benar. Bahkan jika makna kesehatan diperluas hingga ke tataran realitas jiwa atau qalbu, maka antara keyakinan yang benar dengan kesehtan seolah-olah menyatu dalam aspek pengertian, bahwa keyakinan yang benar itulah dia kesehatan jiwa yang sejati.

Penyertaan penyebutan keyakinan yang benar dengan kesehatan dalam matan hadits di atas tampaknya ingin memberi penegasan (atau semacam afirmasi) keharusan membangun kesehatan secara holistik, menyeluruh, tidak sepotong-sepotong, atau tidak secuil-secuil di sana-sini. Dan ini sesungguhnya adalah sebuah afirmasi imperatif yang akan mendorong manifestasi men sano (sehat jiwa) sekaligus corpori sano (sehat tubuh). Dan inilah tonggak nilai integritas kesehatan yang fundamental.

Wajah Kesehatan Saat Ini
Saat ini sebenarnya kita sedang menghadapi wajah kesehatan yang sangat menakutkan. Nilai integritas kesehatan tidak hanya terpisah, tetapi sekaligus juga terpecah. Bisa disaksikan sendiri, upaya kesehatan badan berkembang sangat pesat dengan tingkat kecepatan yang “berlari kencang”, sementara di sisi lain sayup-sayup terdengar upaya kesehatan jiwa yang “berjalan” terseok-seok.

Tidak berlebihan memang jika kemudian Rollo May menyimpulkan abad ini sebagai abad kecemasan (the age of anxiety). Abad kecemasan artinya adalah abad penyakit jiwa. Lewis Mumford, penulis buku Condition of Man, Technics and Civilization, mengatakan bahwa saat ini setiap manusia menjalani hidupnya dalam bimbingan kekerasan (today every human being is living through an apocalypse of violence).

Penyakit jiwa sungguh merupakan hantu kesehatan yang paling menakutkan. Dan ini sedang banyak bergentayangan. Kekerasan bahkan tidak jarang dilakukan dengan penuh kelembutan.
Apa sesungguhnya yang sedang terjadi selama ini? Jawabnya tersimpul dalam salah satu bait puisi TS. Eliot, seorang sastrawan modern, bahwa: the cycle of heaven in twenty centuries; brings us farther from God and nearer to dust (perputaran alam semesta dalam dua puluh abad; membawa kita terjauh dari Tuhan dan semakin dekat kepada debu kehancuran). Semua ilmu pengetahuan kita, masih kata Eliot, membawa kita semakin dekat kepada kebodohan (all our knowledge brings us nearer to ignorance).

Ilmu kedokteran modern memandang manusia seperti mesin, yang dalam istilah Fritjof Capra, manusia sebagai mesin biomedis. Penyakit dipersepsi sebagai kegagalan fungsi (malfungsi) mekanisme biologis pada tataran seluler dan atau molekuler. Dengan pandangan semacam ini, upaya kesehatan yang diterapkan sering kali sangat fisikal sekaligus parsial. Terampil menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara jantung atau paru misalnya, tetapi seringkali gagal menangkap “suara hati” pasien. Padahal, meminjam kata-kata Henry Mandsley (psikiater), bahwa the sorrow which has no vent in tears, may make other organs weep (nestapa yang tak tersalurkan lewat air mata, bisa membuat organ-organ tubuh lain menangis).Makna terpenting dari ungkapan Mandsley di atas sebenarnya adalah merujuk pada nilai integritas kesehatan agar penanganan penyakit secara fisik tidak pernah (atau jangan sampai) tercerabut dari akar-akar sentuhan esensi jiwa insaniah. Kalau tidak, bukan hanya entitas kesehatan yang akan terus menampilkan potret buram, akan tetapi yang paling mengkhawatirkan dari sisi hasil pengorbanan yang telah dilakukan pihak provider adalah peringatan berikut ini: “Katakanlah (Muhammad):’Apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi aktivitasnya’. Yaitu orang yang sia-sia pekerjaannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi: 103-104). Wallahu a’lam.
(La Ode Ahmad).

13 March, 2008

Pastikan Anda Tidak Terjebak Mimpi

Andaikata seseorang yang sedang bermimpi tidak pernah terbangun dari tidurnya, maka semua peristiwa yang dialami dan atau disaksikan dalam mimpi tersebut akan dianggap sebagai kehidupan yang sesungguhnya. Kata mimpi berikut segala romantikanya, hanya ada dalam kamus orang-orang yang terbangun dari tidurnya, karena setiap orang yang sedang bermimpi tidak pernah tahu bahwa dirinya sedang bermimpi, sampai kemudian dia terbangun dari tidurnya. Dalam mimpi, seseorang bisa merasakan kesedihan maupun kesenangan, seseorang bisa lari terbirit-birit sambil berteriak minta tolong karena dikejar-kejar anjing misalnya, atau seseorang bisa tertawa terbahak-bahak menyaksikan sejumlah lelucon yang menggelikan. Akan tetapi perhatikanlah bahwa kehidupan mimpi yang penuh kepalsuan semacam itu hanya bisa diakhiri dengan membangunkan para pemimpi.

Kehidupan saat bermimpi dan kehidupan saat terbangun dari mimpi ibarat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Jika saja Allah tidak menginformasikan terlebih dahulu bahwa ada perkampungan abadi yang bernama akhirat, semua orang akan menyangka bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan satu-satunya, sebagaimana anggapan seseorang yang sedang bermimpi terhadap realitas kehidupan yang dialami dalam tidurnya.
Realitas kehidupan dunia yang asli, tidak akan pernah diyakini keberadaannya oleh para pemimpi yang masih terlelap tidur. Bandingkan keadaan tertidur seorang pemimpi dengan keadaan tanpa iman seorang manusia, yang dalam keadaan terakhir ini tidak akan pernah ada pengakuan terhadap eksistensi kehidupan akhirat.

Tidak sedikit manusia yang, baltu’tsiruunal hayaataddunya (memilih kehidupan dunia, meskipun faktanya wal-aakhiratu khairu wa-abqo (akhirat jauh lebih baik dan kekal) [QS. 87:17].
Andaikan dunia adalah sebongkah emas tetapi bersifat sementara, dan akhirat adalah sebongkah tanah liat tetapi kekal, maka pilihan sudah sepantasnya ditujukan kepada akhirat, lebih-lebih kenyataan sesungguhnya akhirat adalah sebongkah emas yang kekal, sementara dunia adalah onggokan tanah liat yang sementara. Akhirat jauh lebih baik daripada dunia, wal-aakhiratu khairullaka minal-uula (QS. 93:4). Dunia bersifat sementara, addunya faaniyah, sedang akhirat bersifat kekal, wal-aakhiratu baaqiyah. Atas dasar ini, perlukah kita lari saja dari kehidupan dunia ?

Tidak ! Dunia harus kita manfaatkan untuk membangun akhirat. Apalagi dunia adalah satu-satunya lahan tempat menyemaikan benih, sebelum akhirnya memasuki masa panen di akhirat. Dunia jangan dimanfaatkan untuk membangun dunia, sebab kalau bukan kita yang duluan meninggalkannya, dunia yang akan mendahului meninggalkan kita. Daripada membangun sesuatu yang pada akhirnya lenyap (fana), lebih baik membangun sesuatu yang bersifat kekal. Untuk itu, fatazawwadu inna khairazzaadi taqwa, berbekallah kamu sekalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. [QS. 2:197].
Permohonan kita terhadap kebaikan di dunia (fiddunya hasanah) maupun kebaikan di akhirat (fil-akhirati hasanah) dalam do’a sapu jagad, kita lakukan dalam konteks agar dunia tidak kita tempatkan secara salah dalam perjalanan menuju akhirat. Jika seorang petani menginginkan rumput-rumput hijau secukupnya di samping padi, maka cukup benih padi yang ditanam, karena dengan mudah rerumputan bisa tumbuh di sela-sela padi. Akan tetapi jika rumput yang di tanam, belum tentu padi bisa tumbuh dengan sendirinya di sela-sela rumput. Artinya, berorientasi kepada akhirat atau nilai-nilai ukhrawi, yakinlah bahwa dunia akan ikut tergarap dengan baik dan benar. Sebaliknya, berorientasi kepada dunia, dapat menjebak para pecintanya dalam perangkap-perangkap tipuan yang pada akhirnya melenyapkan semua harapan kebahagiaan hakiki bersamaan dengan lenyapnya dunia karena sifat kefanaannya.

Kebaikan di dunia (fiddunya hasanah) dengan demikian menyangkut keahlian atau kemampuan memilih jenis benih yang tepat untuk di tanam dan sekaligus di rawat. karena berbagai macam kuman, hama atau benalu dapat saja menggagalkan masa panen.
Jangan mengharapkan masa panen sebelum waktunya. Jangan berburuk sangka kepada Allah jika benih kebaikan yang disebarkan di dunia tidak segera di balas di dunia, karena dunia memang bukan masa panen. Kalau toh di dunia di beri imbalannya, itu sekedar uang muka, sebelum akhirnya dibayar cash dengan segala bonusnya di akhirat. Pembangkangan-pembangkangan terhadap aturan Allah juga bukan di dunia masa pembalasannya. Kalaulah di beri balasan, itu pun sekadar paket cicilan, sisanya sudah dipersiapkan dengan matang dalam arena pembalasan segala perbuatan di akhirat. Wallahua’lam.
(La Ode Ahmad)

08 March, 2008

Bobot Spiritual Makanan

Dalam surat Abasa ayat 24, Allah SWT berfirman, falyandzuril insaanu ilaa tho’amih (maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya). Saat ini kita hidup di zaman ketika makanan telah memasuki wilayah ’global lifestyle’. Kita mengenal istilah 3F (food, fashion, fun) atau makanan, pakaian, hiburan. Makanan terbaik seorang bayi misalnya, teristimewa yang berusia 0-6 bulan, yakni ASI saja, sampai saat ini masih kalah populer dengan iklan (sekaligus penggunaan) susu formula. Padahal, keunggulan ASI yang tidak akan pernah tertandingi oleh makanan atau susu manapun itu, memiliki legalitas teologis yang sangat jelas, antara lain dalam Surat Al-Baqarah ayat 233.

Dalam buaian iklan, makanan dicitrakan sebagai simbol gaya hidup, dan bahkan simbol kemapanan sosial. Ironisnya, supremasi pertimbangan status halal sebuah produk makanan, dipersepsi sementara orang sebagai belenggu kebebasan untuk memanjakan lidah dan perut. Padahal, Syeh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuly dalam salah satu kumpulan wasiatnya mengingatkan bahwa secara umum, kemaksiatan yang dilakukan manusia pada dasarnya disebabkan makanan yang masuk dalam perutnya. Barangsiapa makan makanan yang tidak halal kemudian berniat melakukan ketaatan, maka itu sama artinya dengan mengharapkan sesuatu yang mustahil.

Imam Sahal mengingatkan, orang yang mengonsumsi makanan haram tidak akan terbuka hatinya. Shalat, puasa dan sedekahnya tidak diterima Allah. Imam Abu Hanifah berkata, meski seseorang beribadah kepada Allah terus menerus, tetapi jika tidak peduli makanan apa yang masuk dalam perutnya, maka semua ibadahnya sia-sia.

Sayyid Abdul Wahab Asy-Sya’rani dalam kitab Al-Minah as-Saniyah mengutip pengalaman Sufyan. ”Ketika saya makan makanan halal, kemudian membaca Al-Qur’an, terbuka bagiku 70 macam ilmu. Sebaliknya, ketika ikut makan dengan orang yang tidak meneliti makanannya, tidak satupun ilmu yang terbuka”, kata Sufyan.

Ali Al-Khawas, juga seperti ditulis Asy-Sya’rani, mengatakan, seseorang yang makan makanan halal, hatinya menjadi bersinar, sedikit tidurnya, dan tidak terhalang hatinya tercelup dalam kasih sayang Tuhan. Sebaliknya, orang yang makan makanan haram, anggota badannya cenderung mudah melakukan maksiat.

Pantaslah, diceritakan dalam salah satu hadits, bahwa suatu ketika Sa’ad mendatangi Rasulullah Saw, kemudian meminta, ”Ya Rasulullah, mohonkan kepada Allah agar do’aku diperkenankan oleh-Nya”. Rasulullah menjawab, ”athib tho’mataka tustajab da’watuka, perbaiki makananmu, maka do’amu dikabulkan”

Bobot spiritual makanan, tersimpan dalam hikmah-hikmah halal dan thoyyib-nya sebuah produk makanan, dan bukan pada aspek ’gaya hidup’ yang diusung iklan. Perkara halal, kita tahu, mencakup dimensi ’zat’ dan sekaligus ’cara’ memperoleh makanan itu sendiri. Makanan yang dari segi zatnya halal, tetapi diperoleh dengan cara yang batil, seperti melalui riba, suap, korupsi dan lain-lain, tetaplah haram. Ujung-ujungnya, Rasulullah Saw mengingatkan kita dalam salah satu haditsnya, bahwa setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, nerakalah yang pantas untuknya. Wallahu a’lam. (La Ode Ahmad)

28 February, 2008

Memancing Rezeqi

Suatu hari, anak saya yang berusia 7 tahun menyodorkan sebuah bungkusan yang terbuat dari kertas bekas. Mirip sebuah amplop. “Ayah, ini tempat tabungan saya” katanya singkat.
“Banyak dong isinya” sahut saya.
“Ya, lumayan…” jawab anak saya sambil mendekati adiknya yang sedang bermain.

Tak lama setelah itu, di depan rumah lewat seorang peminta-minta. Di depan pintu rumah kami, pengemis itu berhenti sejenak. “Jariahnya Pak, jariahnya Pak” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Kebetulan saja saat itu saya sedang tidak memegang uang, bahkan receh sekalipun.

Anak sulung saya yang waktu itu ada di dalam rumah saya panggil. “Qorin”, demikian panggilan singkat anak pertama saya yang bernama lengkap Qorin Haq. “Tolong sayang jariahnya”.
Beberapa saat berlalu, anak saya belum juga keluar.

“Cepat sayang, udah ditunggu nih” panggil saya sekali lagi.
Akhirnya, alhamdulillah sang pengemis itupun segera menerima uang jariah.
Saya lalu masuk ke dalam rumah. Menghampiri anak saya, dan bertanya: “Kok, ngambil uangnya tadi agak lama sayang?”

“Habis Qorin nyari-nyari uangnya tidak dapat. Akhirnya Qorin buka aja tabungannya. Trus ngambil duit tabungan seribu”.

“Lantas …”
“Yaa..jadi berkurang deh tabungan Qorin”

“Oh, tidak sayang, seribu rupiah yang Qorin keluarkan dari tabungannya untuk peminta-minta tadi, sebenarnya adalah tabungan yang sesungguhnya. Jadi tidak berkurang sayang. Malah bertambah kan?”

Saya tidak faham persis bagaimana penerimaan anak saya terhadap keterangan yang saya sampaikan tersebut. Tapi saya lihat saat itu, dia senyum terangguk-angguk, seperti orang yang mengerti betul apa yang barusan saya katakan.

“Kalau kita memberikan sedekah dengan ikhlas, Allah akan memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda. Rasulullah Saw pernah bersabda yang artinya: Pancinglah rezeki dengan sedekah” demikian saya menambahkan.

Belum juga berganti hari, sore ba’da ashar waktu itu, anak saya ditengok oleh kakeknya. Menjelang pamit pulang, sang kakek menyelipkan selembar uang di saku anak saya. “Simpan ya buat tabungannya” kata kakek sambil membelai cucunya.
Sang kakek pamit, iseng-iseng saya nanya anak saya: “Wah, barusan kakek ngasih duit ya..?”

“Iya...Lima puluh ribu rupiah” jawab anak saya senang.
“Nah…tuh kan?! Kata saya.

Ikan besar lebih sering dipancing dengan umpan ikan kecil.
Gimana kalau umpannya ikan besar?
Ikan yang bakal di dapat so pasti lebih besar lagi dong! .
Wallahu A’lam. (La Ode Ahmad)

22 February, 2008

Ayat-Ayat Kematian

Sejarah perjalanan hidup anak manusia tidak pernah sepi dari catatan seputar orang-orang yang mengharapkan (bahkan memilih) kematian untuk membebaskan diri dari sejumlah beban penderitaan hidup yang dihadapi. Saat ketika sejumlah ahli kesehatan jiwa mengumumkan abad ke-20 sebagai abad kecemasan (age of anxiety), sejarah memang seperti tak henti-hentinya mencatat kematian demi kematian yang sengaja dipilih oleh sejumlah anak manusia, baik untuk kematian diri sendiri maupun kematian bagi orang lain. Pelakunya seperti tidak lagi mengenal usia, tua maupun muda, dewasa bahkan anak-anak, mereka semua telah terekam dalam catatan sejarah kelam cara memilih kematian. Atas nama kepercayaan tertentu, sejarahpun tidak luput mencatat aksi bunuh diri massal yang konon diyakini para pelakunya dan penganutnya sebagai parade kematian menuju kedamaian. Na’uzubillahiminzalik.

Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fii Zhilalil Qur’an menulis, kematian bukan akhir dari kehidupan. Kematian adalah bagian dari fase kehidupan itu sendiri yang akan dilalui oleh setiap orang, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, yakin ataupun tidak yakin. Kematian adalah pintu masuk ke dalam kehidupan berikutnya. Kehidupan sesungguhnya. Andaikan tak ada kehidupan setelah kematian, maka kematian benar-benar akan menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri semua beban hidup yang dialami. Kenyataannya, setelah kematian manusia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap semua yang dilakukan di dunia. Setelah kematian, para pecundang hidup yang sering dimenangkan oleh pengadilan dunia akan terlibas dengan sendirinya dalam kehinaan di bawah pengadilan Tuhan.

Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Al-Ghazali merangkai kalimat-kalimat yang sarat dengan hikmah tentang kematian di atas selembar kertas. Diletakkannya sehelai kertas itu di sampingnya sampai akhirnya beliau meninggal. Inilah goresan di atas secarik kertas itu:

Katakanlah kepada sahabatku yang melihatku telah wafat
Mereka meratapi kebaikanku dan menangisiku karena sedih
Apakah kalian mengira bahwa aku adalah mayat di antara kalian?
Demi Allah, sebenarnya aku ini bukanlah mayat.
Aku berada dalam barzakh, dan jasadku ini...
Dahulu merupakan rumah dan pakaianku untuk beberapa masa
Aku burung pipit dan ini adalah sangkarku
Aku terbang meninggalkannya dan tinggallah ia tergadai
Aku mutiara yang tertutup oleh kulitnya
Untuk mengujiku maka aku tinggalkan cobaan itu
Aku memuji kepada Allah telah membebaskan aku
Dan membangun untukku tempat tinngal di surga.
Dahulu sebelum ini aku adalah mayat di antara kalian
Maka sekarang aku hidup dan aku buka kafan itu
Sekarang aku berdialog dengan alam arwah
Dan aku memandang Allah dengan jelas dan terang
Aku telah pergi dan meninggalkan kalian
Aku tidak rela tempat kalian menjadi negeriku
Janganlah kalian sangka bahwa maut itu kematian
Sesungguhnya ia adalah kehidupan, dan tujuan akhir
Janganlah kalian gentar menghadapi maut
Ia tidak lain hanyalah perpindahan dari sini.

Wallahu A’lam

11 January, 2008

Saat Usia Makin Tua

Perubahan fisiologis tubuh manusia, jika direnungkan lebih dalam, sangat relevan dengan jenis kebutuhan ibadah yang harus dipenuhi. Contoh, dalam dunia medis dikenal istilah osteoporosis, suatu perubahan sistemik pada tulang yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang sedemikian rupa sehingga tulang mudah patah. Osteoporosis atau pengeroposan tulang kini menjadi permasalahan dunia. Dari 28 juta penderita osteoporosis di Amerika Serikat tahun 1998 misalnya, hampir 2 juta diantaranya meng-alami kasus patah tulang (Republika, 25 Oktober 2005).

Fakta empiris menunjukkan, osteoporosis pada umumnya diderita oleh orang-orang tua. Semakin tua umur seseorang, semakin besar potensi mengalami osteoporosis. Hal ini seperti memberi isyarat bahwa orang-orang yang sudah lanjut usia sudah harus lebih banyak ”duduk tafakkur”. Tulang-tulang mereka sudah tidak kuat membawa badan mereka keluyuran kemana-mana, apalagi ke tempat-tempat maksiat.

Banyak obat diiklankan untuk mengurangi proses osteoporosis, atau proses degeneratif pada umumnya. Hanya saja, Rasulullah Saw dalam salah satu haditsnya mengingatkan, bahwa semua penyakit ada obatnya, kecuali penyakit tua. Saat usia makin tua, lebih baik mengikhlaskan proses yang tak ada obatnya itu berlangsung secara alami. Perhatian kepada iklan obat sudah harus dialihkan lebih banyak kepada persiapan manghadapi hari penuh kepastian, dimana tak seorang pun kuasa memperlambat atau mempercepatnya, bahkan satu detik sekalipun (QS.10: 49), (QS.15:5), (QS.23: 43).

Ketika profesi kedokteran mengklaim dapat memperpanjang usia, maka haruskah kita mengatakan bahwa kedokteran zaman sekarang masih sangat primitif dibanding dengan kedokteran pada zaman ketika Nabi Adam a.s masih hidup dulu? Kedokteran mana yang menjadikan usia nabi pertama itu dapat mencapai hitungan berabad-abad?
Rumus yang berkaitan dengan hitungan-hitungan usia, selamanya akan tetap menjadi rahasia, dan sepenuhnya hanya Allah saja yang tahu. Manusia, berikut profesinya, hanya bertugas untuk ’memberi makna’ pada usia-usia yang sudah dijatahkan oleh ’Sang Penguasa’ waktu (QS. 35:11), (QS. 67: 2).

Profesi kedokteran akan menjadi bermakna hanya jika profesi tersebut meng-anggap kesehatan badan tidak lebih penting dari kesehatan jiwa dan atau kedokteran jiwa (psikiatri). Jika hanya kesehatan badan yang diburu, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa berbagai jenis belatung atau ulat-ulat tanah selalu siap menggerogoti onggokan-onggokan tubuh yang dibangga-banggakan itu hingga kembali menyatu dengan tanah.

Ketika seorang lansia (lanjut usia) sudah mulai sulit mengucapkan kata-kata akibat gangguan artikulasi misalnya, itu juga seperti isyarat bahwa kelebihan bicara mereka sudah harus lebih banyak ditahan. Yang harus dikeluarkan lebih banyak adalah kelebihan harta mereka.
Semua ’kebiasaan baik’ di hari tua tidak muncul begitu saja melainkan terkait dengan pola kebiasaan yang diupayakan di usia muda. Ungkapan bijak mengatakan, pada awalnya kita membentuk kebiasaan, dan pada akhirnya kebiasaan itu yang membentuk diri kita.

’Menutup usia’ dengan kalimat Laa ilaha illallah, yang menurut keterangan hadits Rasulullah Saw menjadi jaminan masuk surga, tidak bisa direkayasa pada saat-saat sakaratul maut, karena kalimat itu muncul secara spontan sebagai kesimpulan affirmatif dari totalitas bobot perbuatan yang dilakukan selama hidup. Wallahu A’lam.

05 January, 2008

Memulai Dengan Baik

Hari-hari ini adalah hari-hari awal anda atau kita menapaki pergantian tahun, dari 2007 ke 2008. Sudahkah anda membuat perencanaan hidup yang matang? Ya, perencanaan. Anda masih ingat tentu saja bahwa kegagalan membuat perencanaan sama dengan merencanakan kegagalan.

Oleh karena itu pastikan bahwa langkah anda di awal tahun ini adalah langkah yang optimis, langkah yang didasarkan pada perencanaan hidup yang tepat. Ingat, hidup ini mengandung banyak persoalan. Dan ketika anda memulainya dengan perencanaan hidup yang matang, pepatah mengingatkan: well begun is half done, bahwa memulai dengan baik adalah setengah penyelesaian.


Jangan anda menunda-nunda pekerjaan. Never put off till tomorrow what you can do today. Demikian kata orang-orang bijak. Jangan pernah menunda besok apa yang bisa anda lakukan hari ini. Bukankah esok anda belum tentu masih hidup?

17 December, 2007

Anak Sebagai Inspirator

Memandang wajah-wajah polos yang dititipkan Allah ini, selain menyejukkan hati, juga membangkitkan inspirasi untuk melakukan persembahan-persembahan hidup terbaik.

Saya yakin ini adalah salah satu hikmah yang terkandung di balik penitipan amanah ini. Bahwa tugas dan tanggungjawab di pundak orang tua tidak ringan dalam mengasuh, mendidik dll, it's okey. Tapi bukankah kelelahan yang kadang-kadang terasa dalam proses mengemban tugas kekhalifahan ini bisa pupus seketika hanya dengan memandang wajah-wajah yang menyejukkan ini? Belum lagi jika mereka kelak menjadi anak-anak yang turut mengantarkan kedua orang tua mereka memasuki kebahagiaan abadi dalam surga-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Maka tetaplah pada koridor kesabaran dalam mengasuh atau mendidik mereka. As you sow, so will you reap (seperti apa yang anda tanam, seperti itupula yang anda akan petik), demikian kurang lebih dikatakan dalam sebuah ungkapan hikmah.

Sebagai penutup, sekaligus sebagai penggugah motivasi untuk selalu memberikan yang terbaik, camkanlah ungkapan intelektual muslim Dr. Yusuf Qardhawi, bahwa "jangan pernah melakukan sesuatu di dunia ini selain yang dapat membuat anda tersenyum bahagia pada hari perhitungan seluruh amal di akhirat kelak". (La Ode Ahmad). Wallahu A'lam.

03 December, 2007

Hikmah Sehat dan Sakit

Sehat dan Sakit sesungguhnya adalah sama-sama ujian. Sehat merupakan lahan ujian kesyukuran, sementara sabar adalah lahan ujian kesabaran. Jika dalam dua jenis lahan ujian ini anda lulus, maka tambahan kebaikan akan menjadi milik anda. Memang sekilas menyenangkan jika kita diuji dengan keadaan sehat. Namun justru karena menyenangkan itulah banyak yang tidak lulus. Yang seharusnya keadaan sehat dimanfaatkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan ungkapan syukur atas keadaan sehat tersebut, malah dimanfaatkan untuk kegiatan yang menghina Sang Pemberi kesehatan.

Yang tidak kalah seru tantangannya adalah ujian berupa keadaan sakit. Sesuai namanya, pada umumnya menyakitkan. Namun jika suasana tersebut dianggap sebagai momentum untuk menerapkan sifat sabar, maka percayalah dan bahkan yakinlah bahwa kebaikan akan selalu berpihak kepada anda. Tentu anda masih ingat bahwa kebaikan itu tidak harus selalu berupa sesuatu yang menyenangkan. Dalam hal ini Allah mengingatkan, "bolehjadi engkau menyukai sesuatu padahal dalam pandangan Allah itu buruk buat anda, dan bolehjadi engkau membenci sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang engkau tidak mengetahui". Wallahu A'lam.